Selasa, 11 Dec 2018
radarjombang
icon featured
Kota Santri

32 Desa Rawan Bencana, BPBD Jombang Imbau Masyarakat Waspada

04 Desember 2018, 10: 30: 52 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Petugas BPBD Jombang memantau pergerakan hujan di Kabupaten Jombang lewat monitor.

Petugas BPBD Jombang memantau pergerakan hujan di Kabupaten Jombang lewat monitor. (Anggi Fridianto/Jawa Pos Radar Jombang)

JOMBANG – Memasuki musim hujan, BPBD Kabupaten Jombang mengimbau warga yang tinggal di Kecamatan Mojowarno, Mojoagung dan Wonosalam agar meningkatkan kewaspadaan diri.

Pasalnya, ada 32 desa yang menyebar di wilayah itu masuk rawan bencana kategori tinggi. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jombang Abdul Wahab menjelaskan, 32 desa masuk kategori rawan bencana berdasarkan hasil pemetaan yang dilakukan BPBD.

”Totalnya ada 32 desa di tiga kecamatan tersebut. Kalau Kecamatan Bareng juga lebih cenderung bencana masalah kekeringan yakni Desa Ngrimbi, Pakel dan Karangan,” ujarnya saat ditemui kemarin.

Dia menjelaskan, dikatakan kategori tinggi karena tiga wilayah tersebut sering terjadi bencana yang sifatnya cukup massif. Misalnya, wilayah Kecamatan Mojowarno dan Mojoagung yang dikenal kawasan banjir sedangkan Kecamatan Wonosalam dikenal sebagai kawasan rawan longsor.

”Jadi kita menyusunnya berdasarkan dokumen tata ruang dan histori,” papar dia. Dari pemetaan yang dilakukan, ada beberapa desa yang masuk daftar rawan kategori tinggi. Misalnya, Desa Kademangan, Karobelah, Betek dan beberapa desa yang dekat dengan bantaran Kali Gunting Mojoagung.

Di Kecamatan Wonosalam juga demikian, beberapa desa seperti Panglungan, Jarak, Carangwulung dan Sambirejo juga masuk kategori rawan. ”Sebenarnya, ada beberapa desa lagi yang masuk kategori seperti Wonomerto. Karena kejadian bencana angin kencang kemarin ada 32 unit rumah yang terdampak,” bebernya.

Sejauh ini, kata pria asli Sumenep ini, pihaknya sudah menyiapkan beberapa antisipasi mulai menyiapkan logistik, relawan, hingga memantau perkembangan hujan yang terjadi di masing masing desa melalui BMKG setiap harinya.

”Selain itu, kami juga berencana melakukan simulasi bencana di beberapa desa yang rawan itu,” jelasnya. Simulasi dilakukan untuk mempersiapkan ketika suatu saat terjadi bencana. BPBD bakal memberikan bekal kepada warga bagaimana cara menghadapi bencana.

Pihaknya juga bakal menentukan mana titik yang dijadikan evakuasi, dapur umum maupun jalur jalur yang tidak boleh dilewati saat terjadi bencana. ”Sejauh ini baru desa Betek, Mojoagung saja yang mengajukan simulasi. Desa lainnya belum,” tandasnya.

Beda wilayah beda juga simulai yang dilakukan. seperti wilayah rawan banjir di Mojoagung tentu berbeda dengan wilayah rawan longsor Wonosalam. ”Tentu berbeda. mengenai persiapan logistik juga bakal beda,” pungkasnya. (*)

(jo/ang/mar/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia