Selasa, 11 Dec 2018
radarjombang
icon featured
Tokoh

KH Hasbullah Said; Pentingnya Tirakat dan Peran Nyai Lathifah

15 November 2018, 20: 54: 15 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Bagian dalam masjid induk di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas

Bagian dalam masjid induk di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas (ACHMAD RW/ JAWA POS RADAR JOMBANG)

JOMBANG – Sebagai seorang kiai besar, ternyata kiai Hasbullah Said malah dikenal di kalangan keluarga sebagai orang yang tidak cukup mumpuni di bidang kecerdasan intelektual.

“Bahkan di buku yang kami tulis, menyebut jika beliau itu bisa dibilang dedel, meski demikian, Mbah Hasbullah punya dimensi kecerdasan lain yang bisa jadi pelajaran bagi banyak orang,” kembali Ainur Rofiq Al Amin bercerita.

Kecerdasan dan kemampuan lain yang disebutnya ini adalah kemampuan Kiai Hasbullah Said di bidang tirakat dan kedermawanannya yang memang telah diakui orang banyak. Bahkan dalam suatu cerita, Kiai Hasbullah punya kebiasaan tirakat yang khas ketika istrinya mengandung ke delapan anaknya.

“Setiap mengandung, atas permintaan istrinya Nyai Lathifah, beliau ini akan mengkhatamkan Alquran setidaknya seratus kali dalam sembilan bulan. Artinya rata-rata beliau akan khatam Alquran setiap 2 sampai 3 hari sekali,” lanjutnya.

Maka menurutnya tak heran ketika lahir dan besar, putra putri Kiai Hasbullah menjadi tokoh-tokoh besar yang juga berpengaruh kepada kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Sebut saja Kiai Wahab, Nyai Khodijah yang jadi istri Kiai Bisri dan masih banyak lagi, tentu ini bukan orang main-main, dan saya yakin benar ini tak lepas dari upaya tirakat beliau selama masa kehamilan,” ucap Gus Rofiq. Tak saja Kiai Hasbullah yang melakukan tirakat dalam banyak kegiatan.

Bu Nyai Lathifah memang juga dikenal sebagai orang yang sama kuatnya dalam hal tirakat dengan sang suami. Seperti ikut melakukan riyadlah dalam upayanya terus mengembangkan pesantren. Bahkan Akhmad Taqiyudin Mawardi dalam buku Tambakberas Menelisik Sejarah memetik Uswah menulis

“Peran Mbah Nyai Lathifah senantiasa mendukung perjuangan Mbah Hasbullah. Ini mengingatkan pada pepatah Arab waro’a kulli adziimin adziimatun (dibalik lelaki agung pasti terdapat perempuan yang agung pula),” tulisnya. Hal ini menurut Gus Rofiq menjadi contoh penting bagaimana santri harus menyikapi dirinya sendiri.

Di pondok, tidak semua orang memang punya kecerdasan intelektual yang sama. Sehingga dengan mampu mengembangkan kecerdasan lain, santri atau pembelajar tak seharusnya menyerah dengan keadaan. Terlebih kecerdasan intelektual bukan satu-satunya jalan menuju kebahagiaan.

“Kita semua tahu, semua orang punya kecerdasan intelektual berbeda-beda. Untuk itu, santri jangan mudah menyerah, kalau dirasa secara intelektual memang tidak mumpuni, masih banyak kecerdasan lain yang bisa dikembangkan. Mbah Hasbullah ini contohnya, dan ini pelajaran yang sangat penting,” pungkasnya. (Pewarta: ACHMAD RW)

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia