Selasa, 11 Dec 2018
radarjombang
icon featured
Tokoh

KH Hasbullah Said; Perintis Awal Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas

15 November 2018, 20: 20: 53 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Makam KH Hasbullah Said di Tambakberas

Makam KH Hasbullah Said di Tambakberas (ACHMAD RW/ JAWA POS RADAR JOMBANG)

JOMBANG – Rubrik Tokoh Jawa Pos Radar Jombang kali ini mengangkat kisah hidup singkat salah satu ulama besar Jombang. Ulama yang juga berperan penting dalam perkembangan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang.

Ia adalah KH Hasbullah Said, salah satu pengasuh Pondok Tambakberas. Ditangannya, Bahrul Ulum yang dimasanya lebih dikenal sebagai pondok syariat mulai ditata. Bahkan bangunan monumental berupa masjid induk Tambakberas berdiri.  

KH Hasbullah adalah putra Kiai Said yang juga Cucu Kiai Abdussalam atau lebih dikenal sebagai Mbah Soichah yang merupakan pendiri pondok selawe, cikal bakal Pondok Pesantren Bahrul Ulum. Ia menjadi salah satu tokoh penting pada perkembangan pertama pesantren ini.

Gedung KH Hasbullah Said di Pondok Pesantren Tambakberas

Gedung KH Hasbullah Said di Pondok Pesantren Tambakberas (ACHMAD RW/ JAWA POS RADAR JOMBANG)

Karena setelah wafatnya dua kiai besar sebelumnya yakni Kiai Utsman dan Kiai Said sebagai pengasuh pondok Tarekat di timur sungai dan Syariat di barat sungai, dirinyalah yang memimpin pondok ini seluruhnya.

“Sebagian santri Kiai Ustman diboyong oleh menantunya, Kiai Asy’ari ke Desa Keras, yang akhirnya berkembang menjadi Pondok Pesantren Tebuireng sekarang. Sedangkan sebagian yang lain diboyong ke pesantren sebelah barat sungai dijadikan satu dibawah pimpinan Kiai Hasbullah,” dikutip dari buku sejarah pondok pesantren Bahrul Ulum.

Seperti kebanyakan ulama kuno, Kiai Hasbullah adalah ulama yang tekun melakukan aktifitas keagamaan khusus atau biasa disebut tirakat. Bahkan karena kebiasaannya ini, beberapa benda berhasil dijadikannya benda bertuah tentu saja atas izin Allah.

Selain itu, dirinya juga dikenal sebagai salah satu kiai yang punya harta cukup berlimpah. Namun dengan hartanya tersebut dirinya juga dikenal sebagai orang yang sangat dermawan kepada warga di sekitarnya.

“Setiap musim panen tiba, sawahnya menghasilkan berton-ton beras yang ditimbun di gudang pondok untuk keperluan makan keluarga, tamu, santri dan masyarakat sekitar,” dikutip dari tulisan Gus HM Syifa Malik di buku Tambakberas menelisik Sejarah Memetik Uswah.

Tak ada data yang cukup jelas menerangkan kelahirannya, namun Kiai Hasbullah disebut wafat di tahun 1926 bertepatan dengan kongres Al Islam kelima di Bandung (dikutip dari buku Pertumbuhan dan perkembangan NU karya Drs. Chorul Anam) dan dimakamkan di kompleks pemakaman Pahlawan Nasional KH Wahab Hasbullah.

Bahkan, namanya kini diabadikan sebagai nama gedung serba guna milik Pondok Pesantren Bahrul Ulum guna mengingat jasa-jasanya. Kiai Hasbullah juga tercatat menikah dengan Nyai Lathifah, keduanya mempunyai keturunan yang sama dari Prabu Brawijaya V, namun melalui garis keturunan yang berbeda.

Dari keduanya, lahir salah satu ulama besar yang juga salah satu pendiri NU yakni KH. Wahab Hasbullah dan 7 orang putra putri lainnya yakni Abdul Hamid, Khodijah, Abdul Rohim, Fatimah, Sholihah, Zuhriyah dan Aminaturrohiyah yang kini secara turun temurun mengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas. (Pewarta: ACHMAD RW)

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia