Senin, 25 Mar 2019
radarjombang
icon featured
Berita Daerah

Peternak Sapi Perah di Wonosalam Bersyukur Harga Susu Naik

14 November 2018, 13: 02: 36 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

DISETOR: Sejumlah peternak sapi perah menyerahkan susu mereka ke Bumdes sebelum dijual ke pabrik susu.

DISETOR: Sejumlah peternak sapi perah menyerahkan susu mereka ke Bumdes sebelum dijual ke pabrik susu. (ANGGI FRIDIANTO/JAWA POS RADAR JOMBANG)

JOMBANG – Peternak susu sapi perah di Kecamatan Wonosalam akhir-akhir ini bisa sedikit tersenyum. Pasalnya harga susu naik tipis, dari sebelumnya Rp 5000 menjadi Rp 5500 per liter. Seperti  terlihat di salah satu penampungan susu di Desa Galengdowo, Kecamatan Wonosalam, kemarin (13/11).

Sejak pagi pukul 07.00 peternak susu berbondong-bondong menyetorkan susu hasil perahan mereka. Satu orang bisa membawa beberapa peko alias tabung besar untuk wadah susu. Mereka tampak sumringah, karena sejak bulan lalu harga susu terus mengalami kenaikan.

“Sebelumnya dibawah harga 5000, paling mentok 5.100,” ujar Kades Galengdowo Wartomo. Kenaikan harga tersebut terjadi karena permintaan susu yang semakin meningkat. Susu hasil setoran peternak dikirim langsung ke pabrik pengolahan susu yang ada di Pasuruan.

Sayangnya dari kurang lebih 200 orang peternak susu sapi di Desa Galengdowo, tidak semuanya menyetor ke penampungan Bumdes Galengdowo. Sebagian susu hasil perahan justru disetor ke Kabupaten Kediri. “Yang setor ke sini hanya 70 orang. Karena bumdes ini baru berdiri 2017 lalu,” beber dia.

Satu peternak, kadang bisa menjual 30 sampai 40 liter susu per hari. Tergantung jumlah sapi yang mereka miliki. “Satu sapi bisa menghasilkan 15 liter susu per hari. Jadi kalau mereka memiliki empat sapi bisa menghasilkan 60 liter per hari,” papar dia.

Bahkan ada juga yang menyetorkan hingga 100 liter susu perhari, karena memiliki banyak sapi perah. “Kalau punya puluhan sapi, bisa setor ratusan liter,” jelas dia. Untuk menjaga kualitas, sebelum dijual ke pabrik petugas bumdes memeriksa susu dari peternak.

Dalam proses ini digunakan alat berbentuk pipa berujung agak lancip untuk mengetahui apakah susu tersebut benar-benar murni dan tidak. “Kami punya alat yang dipimjami pabrik susu. Nanti kalau susunya dicampur air, alat tersebut akan mengambang dan tidak bisa tenggelam,” beber dia.

Dalam setahun terakhir pihaknya menemukan ada empat sampai lima peternak yang mencampur susu dengan air. “Ya ada, tapi itu dulu. Sekarang sudah tidak ada. Karena kami selalu mengimbau agar tidak dicampur dengan air,” pungkasnya. (*)

(jo/ang/mar/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia