Rabu, 14 Nov 2018
radarjombang
icon featured
Kota Santri

Sekolah di Kecamatan Ploso Dihimbau Awasi Masuknya Pedagang

Kamis, 08 Nov 2018 10:47 | editor : Mardiansyah Triraharjo

Ilustrasi: Kegiatan istirahat siswa SDN Sumberaji, Kecamatan Kabuh

Ilustrasi: Kegiatan istirahat siswa SDN Sumberaji, Kecamatan Kabuh (MARDIANSYAH TRIRAHARJO/JAWA POS RADAR JOMBANG)

PLOSO - Terjadinya peristiwa keracunan yang dialami 25 siswa SDN Losari 2 Ploso, direspon Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang. Seluruh sekolah diminta memperketat keamanan, terutama kepada pedagang luar yang berjualan di sekitar sekolah.

Termasuk pengawasan makanan dan minuman yang dijual. Korwilker Pendidikan Kecamatan Ploso Wahib mengatakan, sudah memanggil Kepala SDN Losari 2 dan meminta laporan kronologi kejadian.

"Dari keterangan kepala sekolah peristiwa ini berlangsung sangat cepat. Pelaku datang membawa es dan membagikan ke salah satu siswa, setelah es terbagikan pelaku langsung meninggalkan sekolah," ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Jombang.

Karena berlangsung sangat cepat, kata Wahib tidak ada satu pun guru yang sempat melihat wajah pelaku. "Bahkan plat nomor sepeda motor pelaku juga tidak ada yang sempat melihat. Hanya siswa yang tahu ciri-ciri fisik pelaku," imbuhnya.

Meski begitu, lima siswa yang sempat dilarikan ke puskesmas, kondisinya saat ini sudah pulih.

"Mereka tetap masuk sekolah seperti biasa, sudah tidak mengalami mual dan muntah seperti kemarin. Untuk mengantisipasi peristiwa serupa, kami sudah mengeluarkan himbauan kepada seluruh sekolah untuk memperketat keamanan," tambahnya.

Salah satu yang bisa dilakukan sekolah adalah dengan melarang pedagang dari luar masuk ke halaman sekolah. "Pedagang makanan di sekolah biasanya permanen, tapi juga ada yang keluar masuk. Untuk yang keluar masuk ini, sekolah harus memberi pengawasan," ujarnya.

Jika ada gerak gerik yang mencurigakan, menurut Wahib sekolah harus berani melarang pedagang tersebut masuk. "Lihat dulu makanan minuman apa yang dijual, minta juga identitas pedagang. Agar jika terjadi masalah bisa lebih mudah penyelesaiannya," ucapnya.

Bahkan jika memungkinkan, sekolah bisa menutup pintu gapura yang menjadi akses keluar masuk siswa. "Kalau sekolah punya kantin mandiri, itu justru lebih baik. Anak-anak tidak sampai jajan di luar," pungkasnya. (*)

(jo/mar/mar/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia