Rabu, 14 Nov 2018
radarjombang
icon featured
Peristiwa

Dari Limbah Kayu, Sigit Waluyo Jalankan Usaha Kerajinan Miniatur Kapal

Selasa, 06 Nov 2018 09:00 | editor : Binti Rohmatin

KREATIF: Sigit Waluyo, 36 warga Pulosari Bareng membuat kerajinan miniatur kapal

KREATIF: Sigit Waluyo, 36 warga Pulosari Bareng membuat kerajinan miniatur kapal (ANGGI FRIDIANTO/JAWA POS RADAR JOMBANG)

JOMBANG - Bagi sebagian orang, limbah kayu kerap dinilai tak memiliki harga. Namun ditangan Sigit Waluyo, limbah kayu bisa disulap menjadi kerajinan kapal bernilai tinggi. Bahkan kerajinan ini mampu bersaing dengan kerajinan kapal buatan Cina.

Dari rumah Sigit Waluyo yang berada di Desa Pulosari, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, tampak berjajar deretan kapal pinisi. Kreasi kapal berbahan limbah kayu ini cukup menarik perhatian. Apalagi bentuknya  mirip seperti aslinya. 

Bentuknya begitu detail, mulai dari layar, badan kapal hingga tali yang dipakai. Sekilas, tak kentara bila miniatur kapal itu terbuat dari limbah kayu. Ya, di tangan Sigit, semua limbah kayu bisa dimanfaatkan dan bernilai rupiah. Mulai limbah kayu triplek, kayu potongan meja, kursi dan lain-lain. 

Sigit adalah perajin miniatur kapal yang memanfaatkan kayu limbah sebagai bahan dasar. Dia sudah menekuni aktivitas itu sejak tiga tahun lalu. Ada tiga jenis kapal yang sering dibuatnya. Mulai bentuk kapal pesiar, kapal perang dan kapal pinisi.

Untuk membuat miniatur kapal berukuran 40 x 20 sentimeter itu dia membutuhkan waktu paling tidak tujuh hari.  Sedangkan, kapal besar berukuran 160 x 150 cm sekitar dua minggu lebih. Pekerjaan itu Sigit dibantu satu pekerja.

"Semuanya dari limbah kayu," ujar dia. Pria berambut gondrong ini menguraikan, meski bahan yang dipakai limbah kayu, namun kualitas kayu tetap dinomorsatukan. Sebelum dipakai bahan kapal, dia menyortir kayu yang layak dan kayu tidak layak. 

"Selain itu untuk memperkuat kualitas kayu, terlebih dahulu kayu itu saya jemur dan saya semprot pakai obat tanaman. Yakni pupuk cair Urea," jelasnya. Meski terdengar sedikit aneh, namun hal itu sudah dicoba bapak satu anak ini berkali kali.

Hasilnya memang kuat, kayu tidak mudah retak dan tidak mudah dimakan rayap. "kayu yang biasa saya gunakan adalah kayu sengon dan kamper. Kayu triplek juga saya pakai untuk badan kapal," papar dia lagi.

Sigit mengaku, belajar membuat miniatur kapal tersebut dari video-video di youtube. Pada 2016 silam, dia tertarik membuat kapal pinisi setelah melihat video kapal pinisi di internet. Namun keahlian sigit dalam berkreasi memang sudah dimiliki.

Sebab, dia sering diminta tetangga dan saudaranya untuk membuat berbagai macam perabotn seperti meja dan kursi. "Ya memang punya sedikit skill dan tinggal mengembangkan saja," jelasnya. 

Satu kapal berukuran paling kecil dihargai Rp 80 ribu sampai Rp 250 ribu. Tergantung jenis kapal dan tingkat kerumitan. Sedangkan, kapal jenis pinisi paling besar dihargai Rp 2,5 juta. Untuk memasarkan miniatur kapalnya itu, dia tak hanya memanfaatkan getok tular (dari mulut ke mulut, Red) namun juga dipasarkan secara online by whatsapp.

"Kan saya tergabung di beberapa grub perajin di Jawa Timur. Alhamdulilah tembus Surabaya juga," jelas dia lagi. Selain memasarkan sendiri, dia mengaku kapal buatannya sering dipamerkan dalam berbagai event tingkat kabupaten. "Alhamdulilah sering diikutikan pameran pameran, kadang laku satu dua. Disyukuri saja," pungkas Sigit. (*)

(jo/ang/bin/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia