Rabu, 14 Nov 2018
radarjombang
icon featured
Kota Santri

Ditangan Ongen, Satu Bibit Durian Bisa Disambung Tiga Akar

Sabtu, 03 Nov 2018 12:48 | editor : Binti Rohmatin

Melihat Pembibitan Durian dengan Sambung Pucuk di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngoro

KREATIF: Ongen saat menyambung pucuk bibit durian di rumahnya Desa Sugihwaras kemarin.  (ANGGI FRIDIANTO/JAWA POS RADAR JOMBANG)

JOMBANG - Bagi pecinta buah durian, tak ada salahnya mencoba teknik pembibitan dengan metode sambung pucuk. Cukup menunggu lima tahun, buah bisa dipanen. Seperti yang dilakukan Ongen Asep, 27 warga Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngoro.

Saat ditemui Jawa Pos Radar Jombang, Ongen tampak sibuk dengan bibit bibit durian di pekarangan rumahnya. Berulangkali, Ongen memotong pucuk pohon durian dan disambungkan ke pucuk tanaman durian lain. 

Dari ratusan bibit durian itu ada beberapa bibit yang cukup menyita perhatian. Sebab, satu induk pohon durian itu memiliki tiga kaki (perakaran, Red). Ya, itu adalah pembibitan dengan metode sambung kaki. 

Sambung kaki sendiri adalah proses menggabungkan batang bawah, untuk memperkuat dan mempercepat pertumbuhan. Artinya, jika satu pohon normalnya membutuhkan waktu 10 tahun, maka dengan sambung kaki itu waktu yang dibutuhkan lebih singkat, hanya tiga sampai lima tahun. 

”Jadi metode yang saya gunakan ini untuk mempercepat pertumbuhan durian, yaitu sambung pucuk dan sambung kaki. Satu tanaman bisa dijamin berbuah dalam waktu 3-5 tahun,’’ ujarnya sembari menyambung kemarin (2/11). 

Ongen menjelaskan, banyak keuntungan dari pembibitan dengan menggunakan metode sambung kaki dan pucuk itu. Pertama, pertumbuhan pohon lebih cepat, pembuahan lebih cepat, perakaran lebih kuat dan tahan terhadap serangan hama.

”Untuk mempercepat pembuahan kita menggunakan sambung pucuk. Kalau sambung pucuk sudah umum digunakan beberapa petani. Tapi kalau sambung kaki memang jarang, dan tujuan sambung kaki ini mempercepat pertumbuhan pohon itu. Karena logikanya satu pohon memiliki tiga akar, tentu semakin cepat proses tanaman tumbuh,’’ papar dia. 

Dia sudah memulai aktivitas sambung pucuk setahun lalu. Ada beberapa jenis bibit pohon durian yang dia gunakan. Seperti durian bido, montong, bawor, musang king dan durian lokal.

”Sebetulnya ada tiga macam metode pembibitan yang saya gunakan. Yakni sambung sisip, sambung pucuk dan okulasi. Tapi yang paling banyak adalah sambung pucuk,’’ bebernya. 

Saat ini, bibit sudah mulai dipasarkan. Namun karena kendala pemasaran, dia hanya mengandalkan media sosial. ”Hanya wilayah Jombang saja, karena selama ini kesulitan bagaimana memasarkan,’’ jelas Ongen. 

Ia mengaku, harga bibit durian hasil sambung pucuk juga bervariatif. Tergantung tinggi pendeknya tanaman. Untuk ukuran paling kecil dia mematok harga Rp 50 ribu perbiji. ”Kalau yang tinggi sekitar satu meter bisa mencapai Rp 500 ribu,’’ tandasnya. 

Pembibitan dengan metode sambung pucuk menurutnya cukup diminati, seiring dengan semakin banyaknya pencinta durian lokal, khususnya Wonosalam.

”Yang paling banyak diminati memang durian bido. Karena buahnya lebih besar, rasa buahnya juga khas Jombang,’’ pungkas Ongen. (*)

(jo/ang/bin/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia